Hampir satu tahun bus Trans-Jakarta koridor 9 wara-wiri Pinang Ranti-Pluit PP. Ada yang senang dengan adanya bus ini, dan ada pula yang tidak senang termasuk gue. Enaknya naik busway sih bisa pindah koridor tanpa beli tiket lagi, punya jalan sendiri sehingga perjalanan lebih cepet, dan sebagainya. Tapi, ada nggak enaknya juga. Kalo sore (apalagi pas bulan Ramadhan), jalur khususnya sering diserobot sepeda motor dan bus kota, kedatangannya yang nggak pasti, jumlah orang yang melebihi kapasitas penumpang yang menyebabkan sulit bergerak dan bernafas, terkadang busnya mogok, dan sebagainya. Hal ini justru menimbulkan masalah baru terhadap transportasi massal di DKI Jakarta. Parahnya lagi, bus kota yang bersinggungan dengan jalur busway dilarang beroperasi.
Misalnya bus Mayasari Bakti P.6 dengan rute Kp. Rambutan-Grogol dan bus PPD 46 dengan rute Cililitan-Grogol. Bus ini sudah tidak terlihat sejak pengoperasian Trans-Jakarta karena rutenya bersinggungan dengan koridor 9. Apabila mereka nekat beroperasi, maka busnya akan disita oleh pihak Dishub. Padahal, armada busway tidak sebanding dengan bus-bus yang dilarang beroperasi tersebut.
Setelah beberapa bulan tak beroperasi, akhirnya ada beberapa bus yang nekat beroperasi karena mereka harus mencari uang untuk makan sehari-hari. Misalnya bus Mayasari Bakti P.2 dengan rute Kp. Rambutan-Grogol dan P.55 dengan rute Kp. Melayu-Grogol. Tetapi, inti dari rute tersebut adalah Cililitan-Grogol karena sesampainya di Cililitan semua penumpang turun dan tak ada penumpang yang naik menuju Kp. Rambutan. Biasanya bus ini mangkal bersama PPD 45 di dekat perempatan UKI. Tarifnya berkisar antara Rp 2000 sampai Rp 3000. Lumayan murah untuk rute yang cukup panjang. Fasilitas yang diberikan emang pas-pasan, tetapi kelebihan bus ini adalah bisa dapet tempat duduk. Sedangkan, naik Trans-Jakarta belum tentu dapet tempat duduk. Beberapa dari bus ini lewat tol dalam kota karena keadaan bus sangat penuh dan penumpang ingin cepat sampai di tempat kerjanya. Selain itu, waktu tempuh bus ini lebih cepat daripada busway. Nggak percaya? Silahkan coba sendiri.
Karena tak berani beroperasi, beberapa armada PPD 46 yang tidak disita menggantikan armada P.67 (Blok M-Senen via Cikini) yang tidak layak jalan. Ada pula rute yang "reinkarnasi", yaitu P.41 (Kp. Rambutan-Harmoni via Manggarai). Tetapi, kenyataannya hanya sampai Pancoran saja karena tidak ada yang naik sampai Harmoni. Bus ini biasanya mangkal di perempatan Pancoran Tugu. Ada juga yang mangkal di Cililitan dan Stasiun Cawang. Ternyata, bus ini masih banyak peminatnya biarpun hanya melayani rute Cililitan-Pancoran saja. Mungkin karena lebih praktis dibandingkan busway yang harus naik tangga menuju halte.
Seharusnya pihak Dishub memertimbangkan keadaan di lapangan sebelum mencabut rute bus kota. Karena bus kota adalah transportasi massal yang sangat diperlukan walaupun bersinggungan dengan koridor busway. Kenyataannya, banyak penumpang yang (terpaksa) menunggu di halte busway karena bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Apalagi di saat pulang kerja, jalur busway sering 'dibombardir' oleh sepeda motor dan mobil pribadi yang membuat perjalanannya terhambat. Sebenernya, tanpa busway kemacetan bisa diurai. Hanya saja, caranya bukan seperti itu.
Sekian.
Senin, 22 Agustus 2011
Minggu, 21 Agustus 2011
Nasib KRL Commuter Line
Sejak pemberlakuan KRL Commuter Line tanggal 2 Juli 2011 lalu, banyak yang berubah dari pelayanan KRL di Jakarta. Inilah beberapa perubahan dari pelayanan KRL Commuter Line & KRL Ekonomi panas:
Pertama, bertambahnya waktu tempuh yang biasanya satu jam sampai Gambir/Jakartakota, sekarang harus dua jam bahkan lebih karena semua KRL berhenti di setiap stasiun.
Kedua, kurangnya armada KRL yang melayani. Padahal, beberapa minggu lalu KRL 'baru' seri JR-203 'mendarat' di Pelabuhan Tanjung Priok. Sebenernya bukan armada KRL yang kurang, tetapi pasokan listrik yang kurang memadai terutama di jalur Tanah Abang - Parungpanjang. Hal ini menyebabkan kurangnya jadwal perjalanan KRL tujuan Serpong/Parungpanjang.
Ketiga, berkurangnya jadwal perjalanan KRL yang menyebabkan terjadinya penumpukan penumpang di setiap stasiun. Kadang-kadang, ada segelintir penumpang yang pasang koran/kulipet (Kursi Lipet) karena ga dapet tempat duduk. Padahal ada himbauannya, "dilarang duduk di lantai atau duduk dengan menggunakan kursi lipat". Biasanya ibu-ibu yang ga kuat berdiri pada bawa kulipet. Padahal di ujung-ujung KRL disediakan Kereta Khusus Wanita (KKW). Parahnya, hal ini kadang-kadang (malahan sering) membuat ratusan penumpang nekat naik ke atap KRL dan bergelantungan layaknya KRL Ekonomi panas. Beberapa penumpang memanfaatkan momen ini untuk naik KRL gratis alias ga beli tiket/udah beli KRL Ekonomi panas tapi pengen cepet pulang. Biasanya hal tersebut terjadi di Stasiun Manggarai, Stasiun Tebet, Stasiun Depok Lama, dan sebagainya. Seandainya atap KRL mendadak roboh, bagaimana nasib penumpang di 'kursi eksklusif'?
Keempat, KRL Commuter Line sering disusul KA jarak jauh di Stasiun Gambir/Manggarai gara-gara KA jarak jauh lebih diprioritaskan dibandingkan KRL tersebut. Kadang-kadang KRL Commuter Line/Ekonomi panas berhenti di Stasiun Manggarai bisa 10-20 menit demi KA jarak jauh, dan 5-10 menit berhenti di sinyal masuk Stasiun Manggarai untuk hal yang sama.
Kelima, ketidakhandalan KRL Ekonomi panas ketika beroperasi. Salah satunya adalah KRL BN-HOLEC. KRL yang berasal dari negeri kincir angin ini adalah KRL yang dinobatkan sebagai "Si Jago Mogok". Maksudnya, KRL ini sering mogok ketika beroperasi. Padahal, KRL ini mulai beroperasi pada tahun 1996. Hanya saja, KRL ini sangat sensitif terhadap kondisi listrik dan lintasan. Waktu itu gue baca di GM-MarKA, armada KRL ini tinggal 24 unit (tiga set. satu set = delapan kereta) yang awalnya berjumlah 128 unit.
Inilah beberapa gambar KRL Commuter Line & KRL Ekonomi panas saat beroperasi.
SadPanda.us - 621425-TKELCTZ.jpg
Kalo yang ini mungkin biasa
SadPanda.us - 621428-OK4HVH4.jpg
Murahnya harga nyawa di Indonesia. Bisa dibeli di Pramuka/rumah sakit terdekat.
SadPanda.us - 621431-AXC87QF.jpg
Buta warna. KRL Commuter Line dikira KRL Ekonomi panas
Seharusnya KRL Ekspress jangan dihapus, tetapi diberi jadwal khusus di pagi hari dan sore hari sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang di beberapa stasiun. Kalo untuk KRL Ekonomi panas mungkin emang begitu keadaannya, sulit untuk diubah karena penggunanya susah diatur. Tulisan ini dibuat bukan untuk nyindir PT. KCJ/penumpang setia KRL, melainkan untuk introspeksi diri agar pelayanan semakin baik dan tidak merusak fasilitas yang telah disediakan.
Pertama, bertambahnya waktu tempuh yang biasanya satu jam sampai Gambir/Jakartakota, sekarang harus dua jam bahkan lebih karena semua KRL berhenti di setiap stasiun.
Kedua, kurangnya armada KRL yang melayani. Padahal, beberapa minggu lalu KRL 'baru' seri JR-203 'mendarat' di Pelabuhan Tanjung Priok. Sebenernya bukan armada KRL yang kurang, tetapi pasokan listrik yang kurang memadai terutama di jalur Tanah Abang - Parungpanjang. Hal ini menyebabkan kurangnya jadwal perjalanan KRL tujuan Serpong/Parungpanjang.
Ketiga, berkurangnya jadwal perjalanan KRL yang menyebabkan terjadinya penumpukan penumpang di setiap stasiun. Kadang-kadang, ada segelintir penumpang yang pasang koran/kulipet (Kursi Lipet) karena ga dapet tempat duduk. Padahal ada himbauannya, "dilarang duduk di lantai atau duduk dengan menggunakan kursi lipat". Biasanya ibu-ibu yang ga kuat berdiri pada bawa kulipet. Padahal di ujung-ujung KRL disediakan Kereta Khusus Wanita (KKW). Parahnya, hal ini kadang-kadang (malahan sering) membuat ratusan penumpang nekat naik ke atap KRL dan bergelantungan layaknya KRL Ekonomi panas. Beberapa penumpang memanfaatkan momen ini untuk naik KRL gratis alias ga beli tiket/udah beli KRL Ekonomi panas tapi pengen cepet pulang. Biasanya hal tersebut terjadi di Stasiun Manggarai, Stasiun Tebet, Stasiun Depok Lama, dan sebagainya. Seandainya atap KRL mendadak roboh, bagaimana nasib penumpang di 'kursi eksklusif'?
Keempat, KRL Commuter Line sering disusul KA jarak jauh di Stasiun Gambir/Manggarai gara-gara KA jarak jauh lebih diprioritaskan dibandingkan KRL tersebut. Kadang-kadang KRL Commuter Line/Ekonomi panas berhenti di Stasiun Manggarai bisa 10-20 menit demi KA jarak jauh, dan 5-10 menit berhenti di sinyal masuk Stasiun Manggarai untuk hal yang sama.
Kelima, ketidakhandalan KRL Ekonomi panas ketika beroperasi. Salah satunya adalah KRL BN-HOLEC. KRL yang berasal dari negeri kincir angin ini adalah KRL yang dinobatkan sebagai "Si Jago Mogok". Maksudnya, KRL ini sering mogok ketika beroperasi. Padahal, KRL ini mulai beroperasi pada tahun 1996. Hanya saja, KRL ini sangat sensitif terhadap kondisi listrik dan lintasan. Waktu itu gue baca di GM-MarKA, armada KRL ini tinggal 24 unit (tiga set. satu set = delapan kereta) yang awalnya berjumlah 128 unit.
Inilah beberapa gambar KRL Commuter Line & KRL Ekonomi panas saat beroperasi.
SadPanda.us - 621425-TKELCTZ.jpg
Kalo yang ini mungkin biasa
SadPanda.us - 621428-OK4HVH4.jpg
Murahnya harga nyawa di Indonesia. Bisa dibeli di Pramuka/rumah sakit terdekat.
SadPanda.us - 621431-AXC87QF.jpg
Buta warna. KRL Commuter Line dikira KRL Ekonomi panas
Seharusnya KRL Ekspress jangan dihapus, tetapi diberi jadwal khusus di pagi hari dan sore hari sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang di beberapa stasiun. Kalo untuk KRL Ekonomi panas mungkin emang begitu keadaannya, sulit untuk diubah karena penggunanya susah diatur. Tulisan ini dibuat bukan untuk nyindir PT. KCJ/penumpang setia KRL, melainkan untuk introspeksi diri agar pelayanan semakin baik dan tidak merusak fasilitas yang telah disediakan.
Jumat, 22 Juli 2011
Commuter Line
KRL Commuter Line. Sesuai dengan namanya, jenis KRL ini kerjaannya muter-muter ngangkut penumpang. Tapi, kadang-kadang jadwalnya juga muter-muter karena sering terlambat. Sebenernya sih KRL ini sama kayak KRL Ekonomi AC, tapi jadwalnya lebih banyak daripada KRL Ekonomi AC yang lama. Tadi sore, gue coba naik KRL Commuter Line ke Stasiun Cawang dari Stasiun Sudirman. Kenapa gak naik Busway? Kabarnya, ada kecelakaan Busway nabrak motor di daerah Glodok & Monas yang bikin Busway jarang lewat. Pas beli karcis, gue nanya dulu ke petugasnya. Saat itu jam 15.10
G: "Mas, Commuter Line (CL) yang ke Bogor/Depok jam berapa?"
P: "Jam 16.30".
G: "Yah, lama amat. Bisa oper KRL di Manggarai gak?"
P: "Bisa dek. Bentar lagi, ada KRL Ekonomi ke Bekasi. Kamu naik itu, terus turun di Manggarai. Nah, abis itu kamu naik CL deh sampe tujuan kamu".
G: Gue
P: Petugas Loket
G: "Tapi kalo pake KRL Ekonomi bayar lagi gak?" <- maunya gratisan
P: "Gak usah. Kalo ada kondektur yang lewat, bilang aja terusan ke Bogor".
G: "Oh, ya udah deh".
Ribet juga ya. Di jam orang mulai pulang ke rumah KRL-nya malah ga ada. Ya udah, gue beli tuh tiket. Gak lama kemudian, KRL Ekonomi jurusan Bekasi dateng. Keadaannya sih sepi. Maklum, baru berhenti di Tanah Abang & Karet. Perjalanan dari Stasiun Sudirman ke Stasiun Manggarai sekitar 5-10 menit. Sampe Stasiun Manggarai, gue shalat Ashar dulu di Musholla Stasiun. Abis itu, gue nunggu KRL CL yang jam 15.56 gara-gara keasikan lihat-lihat KRL. Peronnya sih lumayan rame. Soalnya, banyak penumpang yang nunggu KA Senja Bengawan jurusan Solo Jebres. Setelah nunggu 20 menit, KRL pun dateng.
Pas masuk KRL, ada 6 orang yang duduk di deket pintu beralaskan koran. Kaget juga. Soalnya, kalo gak salah ada larangan untuk duduk di lantai KRL. Karena gak ada tempat duduk, gue pun berdiri. KRL yang gue naikin berhentinya agak lama gak tau kenapa. Maklum lah, lalu lintas KA di Stasiun Manggarai luar biasa padat. Setelah melewati berbagai wesel, KRL pun melaju agak kenceng. Baru bentar ngebut, KRL harus berhenti di Stasiun Tebet. Gak lama berhenti, KRL berangkat lagi. Tapi, KRL yang gue naikin kayak gak ada tenaganya alias lambat. Pantesan KRL sering terlambat. Setelah nunggu ratusan tahun (?), akhirnya sampe di Stasiun Cawang. Lalu, gue naik ojek sampe rumah.
Inilah sedikit cerita tentang KRL yang pelayanannya ..... Bisa dibilang standar bahkan kurang. Itu terserah pembaca mau menilai apa.
Nih, gue kasih jadwal KRL Commuter Line & KRL Ekonomi yang berhenti di Stasiun Sudirman. Semoga bermanfaat buat para pembaca.
Dari Bogor/Depok ke Tanah Abang
06.10* (diteruskan ke Angke)
06.13
06.36
07.07 (diteruskan ke Kampung Bandan)
07.20**
07.52
08.26**
09.21
09.26
09.51 (diteruskan ke Angke)
12.31**
15.28**(diteruskan ke Kampung Bandan)
16.31**
16.52
17.11
17.26
19.14
20.16
Dari Tanah Abang ke Bogor/Depok
06.29
06.52 (jurusan Depok)
06.55
07.38 (jurusan Depok)
07.48* (jurusan Depok)
08.07 (hanya sampai Manggarai)
08.45* (jurusan Depok)
09.41
09.50 (hanya sampai Manggarai)
10.31
13.03*
16.30*
16.50*
17.08
17.18
17.30 (jurusan Depok)
19.13
19.31
20.50
yang gak ada keterangan: KRL Commuter Line jurusan Tanah Abang
* : Hari Minggu/Libur batal
** : KRL Ekonomi
Satu lagi. Apabila KRL terlambat, jangan marah. Karena KRL terlambat adalah hal yang biasa.
Sekian
G: "Mas, Commuter Line (CL) yang ke Bogor/Depok jam berapa?"
P: "Jam 16.30".
G: "Yah, lama amat. Bisa oper KRL di Manggarai gak?"
P: "Bisa dek. Bentar lagi, ada KRL Ekonomi ke Bekasi. Kamu naik itu, terus turun di Manggarai. Nah, abis itu kamu naik CL deh sampe tujuan kamu".
G: Gue
P: Petugas Loket
G: "Tapi kalo pake KRL Ekonomi bayar lagi gak?" <- maunya gratisan
P: "Gak usah. Kalo ada kondektur yang lewat, bilang aja terusan ke Bogor".
G: "Oh, ya udah deh".
Ribet juga ya. Di jam orang mulai pulang ke rumah KRL-nya malah ga ada. Ya udah, gue beli tuh tiket. Gak lama kemudian, KRL Ekonomi jurusan Bekasi dateng. Keadaannya sih sepi. Maklum, baru berhenti di Tanah Abang & Karet. Perjalanan dari Stasiun Sudirman ke Stasiun Manggarai sekitar 5-10 menit. Sampe Stasiun Manggarai, gue shalat Ashar dulu di Musholla Stasiun. Abis itu, gue nunggu KRL CL yang jam 15.56 gara-gara keasikan lihat-lihat KRL. Peronnya sih lumayan rame. Soalnya, banyak penumpang yang nunggu KA Senja Bengawan jurusan Solo Jebres. Setelah nunggu 20 menit, KRL pun dateng.
Pas masuk KRL, ada 6 orang yang duduk di deket pintu beralaskan koran. Kaget juga. Soalnya, kalo gak salah ada larangan untuk duduk di lantai KRL. Karena gak ada tempat duduk, gue pun berdiri. KRL yang gue naikin berhentinya agak lama gak tau kenapa. Maklum lah, lalu lintas KA di Stasiun Manggarai luar biasa padat. Setelah melewati berbagai wesel, KRL pun melaju agak kenceng. Baru bentar ngebut, KRL harus berhenti di Stasiun Tebet. Gak lama berhenti, KRL berangkat lagi. Tapi, KRL yang gue naikin kayak gak ada tenaganya alias lambat. Pantesan KRL sering terlambat. Setelah nunggu ratusan tahun (?), akhirnya sampe di Stasiun Cawang. Lalu, gue naik ojek sampe rumah.
Inilah sedikit cerita tentang KRL yang pelayanannya ..... Bisa dibilang standar bahkan kurang. Itu terserah pembaca mau menilai apa.
Nih, gue kasih jadwal KRL Commuter Line & KRL Ekonomi yang berhenti di Stasiun Sudirman. Semoga bermanfaat buat para pembaca.
Dari Bogor/Depok ke Tanah Abang
06.10* (diteruskan ke Angke)
06.13
06.36
07.07 (diteruskan ke Kampung Bandan)
07.20**
07.52
08.26**
09.21
09.26
09.51 (diteruskan ke Angke)
12.31**
15.28**(diteruskan ke Kampung Bandan)
16.31**
16.52
17.11
17.26
19.14
20.16
Dari Tanah Abang ke Bogor/Depok
06.29
06.52 (jurusan Depok)
06.55
07.38 (jurusan Depok)
07.48* (jurusan Depok)
08.07 (hanya sampai Manggarai)
08.45* (jurusan Depok)
09.41
09.50 (hanya sampai Manggarai)
10.31
13.03*
16.30*
16.50*
17.08
17.18
17.30 (jurusan Depok)
19.13
19.31
20.50
yang gak ada keterangan: KRL Commuter Line jurusan Tanah Abang
* : Hari Minggu/Libur batal
** : KRL Ekonomi
Satu lagi. Apabila KRL terlambat, jangan marah. Karena KRL terlambat adalah hal yang biasa.
Sekian
Selasa, 21 Juni 2011
Kegiatan Selama Liburan
......
Libur yang ditunggu-tunggu akhirnya dateng juga :D Setelah 'bertempur' dengan soal-soal UUB Al-Azhar yang (sedikit) aneh selama 1 minggu lebih dikit. Hari 'bebas tugas' alias libur berlangsung dari tanggal 20 Juni - 10 Juli 2011.
Liburan kali ini pasti berbeda dengan liburan sebelumnya. Kali ini, rumah gue pindah ke Tebet Timur, Jakarta Selatan. Ga enak sih sebenernya pindah rumah, tapi mau gimana lagi. Ternyata, dengan sangat mengejutkan rumah gue deket sama rel kereta api Bogor - Jakartakota. Sungguh menyenangkan!
Sesuai judul di atas, kegiatan gue selama liburan adalah:
1. Bangun pagi
2. Cuci muka
3. Setel TV (biasanya antara Spongebob/Redaksi Pagi)
4. Sarapan
5. Gowes sepeda. Rute: Rumah - nyebrang ke Kebon Baru - Stasiun Tebet - balik lagi ke rumah (kadang-kadang sih ke arah Bukit Duri, tepatnya ke SMAN 8 baru balik ke rumah)
6. Mandi
7. Nyalain laptop
8. Makan siang
9. Kembali ke laptop *kayak Tukul aja)
10. Setel TV (biasanya sih nonton Redaksi Sore)
11. Makan malam
12. kembali ke nomor 1
Bosen juga sih kegiatannya ini-ini aja *padahal baru 2 hari kayak begini* Ya, beginilah yang namanya liburan....
Libur yang ditunggu-tunggu akhirnya dateng juga :D Setelah 'bertempur' dengan soal-soal UUB Al-Azhar yang (sedikit) aneh selama 1 minggu lebih dikit. Hari 'bebas tugas' alias libur berlangsung dari tanggal 20 Juni - 10 Juli 2011.
Liburan kali ini pasti berbeda dengan liburan sebelumnya. Kali ini, rumah gue pindah ke Tebet Timur, Jakarta Selatan. Ga enak sih sebenernya pindah rumah, tapi mau gimana lagi. Ternyata, dengan sangat mengejutkan rumah gue deket sama rel kereta api Bogor - Jakartakota. Sungguh menyenangkan!
Sesuai judul di atas, kegiatan gue selama liburan adalah:
1. Bangun pagi
2. Cuci muka
3. Setel TV (biasanya antara Spongebob/Redaksi Pagi)
4. Sarapan
5. Gowes sepeda. Rute: Rumah - nyebrang ke Kebon Baru - Stasiun Tebet - balik lagi ke rumah (kadang-kadang sih ke arah Bukit Duri, tepatnya ke SMAN 8 baru balik ke rumah)
6. Mandi
7. Nyalain laptop
8. Makan siang
9. Kembali ke laptop *kayak Tukul aja)
10. Setel TV (biasanya sih nonton Redaksi Sore)
11. Makan malam
12. kembali ke nomor 1
Bosen juga sih kegiatannya ini-ini aja *padahal baru 2 hari kayak begini* Ya, beginilah yang namanya liburan....
Sabtu, 01 Januari 2011
Beberapa Scene Warkop yang Menggelitik
Sebelum masuk sekolah besok, gue punya video yang menurut gue sangat menggelitik. Soalnya banyak adegan slapstick dan beberapa adegan lain yang mengundang gelak tawa bagi yang menontonnya. Tanpa banyak basa-basi, cekidot!
adegan Dunia Dalam Berita dalam film Setan Kredit
adegan Kasino Bermain Telepon dalam film Setan Kredit
adegan Pelayan dalam film Setan Kredit
adegan Makan Kue dalam film Setan Kredit
adegan Melihat Empang Nenek dalam film Setan Kredit
adegan Pelepasan Dono & Kasino dalam film Sama Juga Bohong
adegan Ibu Kost dalam film Sama Juga Bohong
adegan Dono Kegirangan dalam film Sama Juga Bohong
adegan Belajar di Kampus dalam film Sama Juga Bohong
adegan Indro Kejepit dalam film Sama Juga Bohong
Sebenernya sih masih banyak adegan lainnya yang lucu & menggelitik, tapi sementara ini aja dulu. Yang laen menyusul. Selamat menyaksikan!
adegan Dunia Dalam Berita dalam film Setan Kredit
adegan Kasino Bermain Telepon dalam film Setan Kredit
adegan Pelayan dalam film Setan Kredit
adegan Makan Kue dalam film Setan Kredit
adegan Melihat Empang Nenek dalam film Setan Kredit
adegan Pelepasan Dono & Kasino dalam film Sama Juga Bohong
adegan Ibu Kost dalam film Sama Juga Bohong
adegan Dono Kegirangan dalam film Sama Juga Bohong
adegan Belajar di Kampus dalam film Sama Juga Bohong
adegan Indro Kejepit dalam film Sama Juga Bohong
Sebenernya sih masih banyak adegan lainnya yang lucu & menggelitik, tapi sementara ini aja dulu. Yang laen menyusul. Selamat menyaksikan!
Selasa, 21 Desember 2010
Purwokerto Kota Liburan
libur tlah tiba ... libur tlah tiba ...
YEAH! Libur semester 1 akhirnya dateng juga. Liburan kali ini ga membisu di rumah lagi, tapi jalan2 ke Purwokerto :D pastinya, pergi ke sana ya naek Kereta Api. Soalnya ke Purwokerto ga bisa naek Pesawat, lagian siapa sih yang mau naek pesawat? Bisa sih naek pesawat, tapi terjun payung dulu biar sampe #jayusbanget. Gue ke sana naek KA Taksaka 2 jam 20.45, tapi gue udah sampe Gambir jam 17.00. Rajin amat ya gue, 3 jam berada di stasiun. Tapi di stasiun bukan berarti bengong doang, malah motret2 di stasiun. Beruntungnya, gue dapet foto & video KRL seri 7000 untuk pertama kalinya :D tapi kecewanya, setiap KRL non-AC lewat banyak yang gelantungan & duduk di atap KRL. Apa mereka ga takut mati? Mungkin punya 9 nyawa cadangan kayak di CatDog. Namanya juga orang Indonesia, segalanya dilakukan asalkan bisa pulang ke rumah. Selama 3 jam mondar-mandir di peron 3 & 4. Kadang2 ngacir ke peron 1 & 2 ngerekam aksi porter menjemput uang. Ini sebagian hasil potret 2 hari yang lalu di Gambir ...

KRL seri 7000

Langsiran Lokomotif CC 203 xx
Di Purwokerto, liburan makin nikmat. Kenapa? Gue keliling stasiun dari jam 10.00 - 13.00! Tapi pas gue ke stasiun keretanya lagi sepi, soalnya di Purwokerto kereta baru rame jam 11.30. Daripada membatu di kursi peron, mending jalan ke dipo. Lumayan, ada kegiatan langsir kereta di dipo keretanya. Kayaknya sih ada yang mau dibawa ke Cilacap & perbaikan ringan. Lokomotif yang ngelangsir tergolong langka, soalnya hampir semua lok jenis ini udah pulang ke 'panti jompo' di Pengkok alias rusak. Ya, lok D 301 48 masih kuat mondar-mandir bawa rangkaian kereta biarpun ga sekuat dulu.

D 301 48
3 jam kemudian, KA andalan Daop 5, KA Purwojaya masuk jalur 3. Kereta ini menurut GAPEKA (Grafik Perjalanan Kereta Api) masuk stasiun Purwokerto jam 11.27, tapi kemaren baru masuk jam 12.50. Kayaknya sih telat gara2 ada proyek double track di daerah Prupuk. Uniknya, yang narik Purwojaya adalah lokomotif CC 204 12. Pas berhenti, penumpang yang turun banyak banget. Selain itu, KA ini berhenti di stasiun Purwokerto hampir setengah jam gara2 ngambil kereta yang abis dibenerin.


CC 204 12
Jam 13.00, jalan Bank 'memanggil' gue. Gue milih sroto Haji Loso, soalnya menurut gue ini paling enak diantara sroto lainnya di jalan yang sama. Selain itu, di sini ada es campur yang menurut gue langka. Soalnya, model es campur kayak gitu cuma ada di situ. Di sana, gue ngabisin 2 mangkok sroto + 1 gelas es campur. Harganya murah kok, 1 mangkok sroto cuma Rp 8.000 & 1 gelas es campur cuma Rp 6.000.
Sorenya, gue makan sroto (lagi) di kedai sroto yang sama, cuma beda kios doang. Lagi2, gue ngabisin 2 mangkok sroto. Tapi tanpa es campur, males pesennya -_- jadi minumnya teh tawar. Intinya, satu hari gue ngabisin 4 mangkok sroto *banyak bener ya* abis itu, gue diajak bokap keliling Unsoed (Universitas Jendral Soedirman). Terus ke rumah temen bokap (baca: minum teh gratis) jam 19.00, saatnya ke stasiun (lagi). Kalo yang ini tujuannya mau balik ke Jakarta. Gue balik ke Jakarta pake KA Purwojaya. Agak nekat juga sih kalo menurut gue, soalnya Purwojaya adalah KA yang dateng paling pagi di Jakarta. Jam 01.03, itu sih bukan pagi lagi. Tepatnya MIDNIGHT, tapi kenyataannya baru sampe Gambir jam 02.20. Anehnya, KA ini tetep rame ama penumpang.
Mungkin ini adalah perjalanan paling seru dibandingin liburan sebelumnya. Soalnya gue lebih banyak ngabisin liburan kemaren di stasiun. Cukup sekian dulu yaa! Sampai bertemu di perjalanan lainnya (?)
YEAH! Libur semester 1 akhirnya dateng juga. Liburan kali ini ga membisu di rumah lagi, tapi jalan2 ke Purwokerto :D pastinya, pergi ke sana ya naek Kereta Api. Soalnya ke Purwokerto ga bisa naek Pesawat, lagian siapa sih yang mau naek pesawat? Bisa sih naek pesawat, tapi terjun payung dulu biar sampe #jayusbanget. Gue ke sana naek KA Taksaka 2 jam 20.45, tapi gue udah sampe Gambir jam 17.00. Rajin amat ya gue, 3 jam berada di stasiun. Tapi di stasiun bukan berarti bengong doang, malah motret2 di stasiun. Beruntungnya, gue dapet foto & video KRL seri 7000 untuk pertama kalinya :D tapi kecewanya, setiap KRL non-AC lewat banyak yang gelantungan & duduk di atap KRL. Apa mereka ga takut mati? Mungkin punya 9 nyawa cadangan kayak di CatDog. Namanya juga orang Indonesia, segalanya dilakukan asalkan bisa pulang ke rumah. Selama 3 jam mondar-mandir di peron 3 & 4. Kadang2 ngacir ke peron 1 & 2 ngerekam aksi porter menjemput uang. Ini sebagian hasil potret 2 hari yang lalu di Gambir ...

KRL seri 7000

Langsiran Lokomotif CC 203 xx
Di Purwokerto, liburan makin nikmat. Kenapa? Gue keliling stasiun dari jam 10.00 - 13.00! Tapi pas gue ke stasiun keretanya lagi sepi, soalnya di Purwokerto kereta baru rame jam 11.30. Daripada membatu di kursi peron, mending jalan ke dipo. Lumayan, ada kegiatan langsir kereta di dipo keretanya. Kayaknya sih ada yang mau dibawa ke Cilacap & perbaikan ringan. Lokomotif yang ngelangsir tergolong langka, soalnya hampir semua lok jenis ini udah pulang ke 'panti jompo' di Pengkok alias rusak. Ya, lok D 301 48 masih kuat mondar-mandir bawa rangkaian kereta biarpun ga sekuat dulu.

D 301 48
3 jam kemudian, KA andalan Daop 5, KA Purwojaya masuk jalur 3. Kereta ini menurut GAPEKA (Grafik Perjalanan Kereta Api) masuk stasiun Purwokerto jam 11.27, tapi kemaren baru masuk jam 12.50. Kayaknya sih telat gara2 ada proyek double track di daerah Prupuk. Uniknya, yang narik Purwojaya adalah lokomotif CC 204 12. Pas berhenti, penumpang yang turun banyak banget. Selain itu, KA ini berhenti di stasiun Purwokerto hampir setengah jam gara2 ngambil kereta yang abis dibenerin.


CC 204 12
Jam 13.00, jalan Bank 'memanggil' gue. Gue milih sroto Haji Loso, soalnya menurut gue ini paling enak diantara sroto lainnya di jalan yang sama. Selain itu, di sini ada es campur yang menurut gue langka. Soalnya, model es campur kayak gitu cuma ada di situ. Di sana, gue ngabisin 2 mangkok sroto + 1 gelas es campur. Harganya murah kok, 1 mangkok sroto cuma Rp 8.000 & 1 gelas es campur cuma Rp 6.000.
Sorenya, gue makan sroto (lagi) di kedai sroto yang sama, cuma beda kios doang. Lagi2, gue ngabisin 2 mangkok sroto. Tapi tanpa es campur, males pesennya -_- jadi minumnya teh tawar. Intinya, satu hari gue ngabisin 4 mangkok sroto *banyak bener ya* abis itu, gue diajak bokap keliling Unsoed (Universitas Jendral Soedirman). Terus ke rumah temen bokap (baca: minum teh gratis) jam 19.00, saatnya ke stasiun (lagi). Kalo yang ini tujuannya mau balik ke Jakarta. Gue balik ke Jakarta pake KA Purwojaya. Agak nekat juga sih kalo menurut gue, soalnya Purwojaya adalah KA yang dateng paling pagi di Jakarta. Jam 01.03, itu sih bukan pagi lagi. Tepatnya MIDNIGHT, tapi kenyataannya baru sampe Gambir jam 02.20. Anehnya, KA ini tetep rame ama penumpang.
Mungkin ini adalah perjalanan paling seru dibandingin liburan sebelumnya. Soalnya gue lebih banyak ngabisin liburan kemaren di stasiun. Cukup sekian dulu yaa! Sampai bertemu di perjalanan lainnya (?)
Kamis, 16 Desember 2010
Libur Telah Tiba, Hati Tetap Gelisah
Setelah ratusan tahun blog ini ga di-update (?) akhirnya sempet juga buat ngisi kekosongan post di sini. Tapi sekarang gue udah "mutasi" ke SMA Islam Al-Azhar 1. Kali ini gue mau melampiaskan masa SMA yang begitu keras. Ini dia ceritanya ...
Dimulai dari berangkat dari rumah, yang biasanya berangkat jam 06.10 sekarang berangkat jam segitu pasti dipulangin ama penjaga piket. Jadi berangkatnya paling telat jam 05.30 *pagi amat ya* rasanya gue udah kayak orang kantoran. Pulangnya juga sore, jam 4 baru take-off dari sekolah. Dah gitu, pulang-pergi pasti kena macet. Dari macet di tol Jagorawi, perempatan Abdul Majid, sampe deket sekolah juga ikutan macet. Ya itulah Jakarta tercinta, kalo ga macet namanya bukan Jakarta.
Lanjut ke nilai, hampir seluruh KD1 nilai gue REMEDIAL. Terutama nilai Matematika yang ancurnya ga karuan. Yang kedua Bahasa Inggris, Ulangan pertama, kedua, UTS, dan US semuanya dibawah KKM. Suram banget kan! Terakhir yang bikin gue agak kecewa, Fisika. Ulangan pertama sih Alhamdulillah bagus, tapi kok makin ke belakang makin jelek. Tapi ya sudahlah, kejadian itu udah berlalu. Yang harusnya kita pikirin bukan "kenapa sih nilai gua ampe segitu?" tapi "ulangan selanjutnya harus lebih bagus lagi". Tapi prinsip itu ga berpengaruh di pelajaran Fisika. Yang laen sih lumayan lah, paling nggak pas KKM. Masalah KKM, di Alpus tinggi2 banget. Semua KKM di sana di atas 70. Tapi kalo menurut gue itu wajar, soalnya udah berlabel SBI.
Selanjutnya tentang makanan, kalo tentang ini mah ga usah ditanya lagi .... MAKNYUS semua makanannya. Tapi yang paling maknyus ya di lantai 2, bagaikan surga makanan di situ. Tapi ya gitu deh, makanan enak harganya (kurang) enak. Harga makanan di kantin lantai 2 berkisar antara Rp 8000 - Rp 15.000. Tapi itu sebanding ama kenikmatannya. Tempat kedua adalah Amigos yang ada di parkiran, dia jualan nasi uduk plus ayam goreng & tempe yang maknyus. Harganya sekitar Rp 10.000 buat 1 porsi. Selain itu, di emperan JL. Raden Patah (belakang PU) banyak berdiri PKL sampe mobil yang jualan makanan. Pokoke mantap deh makanannya.
Sekian dulu dari gue. Selamat berlibur ~
Dimulai dari berangkat dari rumah, yang biasanya berangkat jam 06.10 sekarang berangkat jam segitu pasti dipulangin ama penjaga piket. Jadi berangkatnya paling telat jam 05.30 *pagi amat ya* rasanya gue udah kayak orang kantoran. Pulangnya juga sore, jam 4 baru take-off dari sekolah. Dah gitu, pulang-pergi pasti kena macet. Dari macet di tol Jagorawi, perempatan Abdul Majid, sampe deket sekolah juga ikutan macet. Ya itulah Jakarta tercinta, kalo ga macet namanya bukan Jakarta.
Lanjut ke nilai, hampir seluruh KD1 nilai gue REMEDIAL. Terutama nilai Matematika yang ancurnya ga karuan. Yang kedua Bahasa Inggris, Ulangan pertama, kedua, UTS, dan US semuanya dibawah KKM. Suram banget kan! Terakhir yang bikin gue agak kecewa, Fisika. Ulangan pertama sih Alhamdulillah bagus, tapi kok makin ke belakang makin jelek. Tapi ya sudahlah, kejadian itu udah berlalu. Yang harusnya kita pikirin bukan "kenapa sih nilai gua ampe segitu?" tapi "ulangan selanjutnya harus lebih bagus lagi". Tapi prinsip itu ga berpengaruh di pelajaran Fisika. Yang laen sih lumayan lah, paling nggak pas KKM. Masalah KKM, di Alpus tinggi2 banget. Semua KKM di sana di atas 70. Tapi kalo menurut gue itu wajar, soalnya udah berlabel SBI.
Selanjutnya tentang makanan, kalo tentang ini mah ga usah ditanya lagi .... MAKNYUS semua makanannya. Tapi yang paling maknyus ya di lantai 2, bagaikan surga makanan di situ. Tapi ya gitu deh, makanan enak harganya (kurang) enak. Harga makanan di kantin lantai 2 berkisar antara Rp 8000 - Rp 15.000. Tapi itu sebanding ama kenikmatannya. Tempat kedua adalah Amigos yang ada di parkiran, dia jualan nasi uduk plus ayam goreng & tempe yang maknyus. Harganya sekitar Rp 10.000 buat 1 porsi. Selain itu, di emperan JL. Raden Patah (belakang PU) banyak berdiri PKL sampe mobil yang jualan makanan. Pokoke mantap deh makanannya.
Sekian dulu dari gue. Selamat berlibur ~
Langganan:
Postingan (Atom)