Hari ini, 19 Oktober 2011, mungkin bagi banyak orang hari ini adalah hari Rabu *iyalah* Tapi, untuk perkeretaapian Indonesia, tanggal ini memiliki hal-hal yang penting.
1. 19 Oktober 1987 - Tragedi Bintaro yang menewaskan lebih dari seratus orang. Sekadar mengingatkan/mengetahui, tragedi ini bermula dari kesalahan PPKA Stasiun Sudimara yang salah memberangkatkan KA 225 (Rangkasbitung - Jakarta Kota) menuju Stasiun Kebayoran. Parahnya, dari Stasiun Kebayoran diberangkatkan KA 220 (Jakarta Kota - Merak) menuju Stasiun Sudimara. Kala itu belum ada Stasiun Pondok Ranji, Stasiun Jurang Mangu, dan belum tersedia double track. Di Km 18.75, dua kereta sarat penumpang itu langsung bertabrakan dan seketika penumpang di dalam kereta keluar dari rangkaian.
2. 19 Oktober 2011 - Pengurangan 29 perjalanan KRL lintas Bogor - Jakarta Kota. Mulai hari ini s.d. 29 November nanti. Keadaan ini pasti membuat warga yang biasa naik dari Stasiun Citayam, Bojonggede, Cilebut, dan Bogor kecewa. Untuk mengakomodasi penumpang KRL dari keempat stasiun tersebut, pihak stasiun menyiapkan sejenis shuttle bus. Kalo menurut gue, gak perlu pihak stasiun untuk menyiapkan shuttle bus. Tetapi, waktu perbaikannya yang diatur. Misalnya, para pekerja mulai bekerja jam 21.00 - 05.00 agar jadwal perjalanan KRL tidak terganggu. Satu pesan dari gue. Selamat menikmati "kaleng sarden" yang makin padat isinya *Peace*
3. 19 Oktober 2011 - Kementrian Perhubungan dipimpin oleh E.E. Mangindaan setelah dirombak oleh Pak SBY. Dengan penggantian menteri ini, perkeretaapian di Indonesia HARUS lebih baik dari sebelumnya. Pentingkan kepentingan rakyat, bukan keuangan ya Pak!
Itulah sebagian dari peristiwa pada tanggal 19 Oktober. Sekian dulu ya! Semoga bertemu di perjalanan yang lain! (?)
Rabu, 19 Oktober 2011
Jumat, 30 September 2011
Laporan Perjalanan: Kebayoran - Manggarai - Cawang
Ceritanya gini nih.
Minggu kemaren, gue main di rumah temen gue di daerah Permata Hijau. Karena rumahnya deket Stasiun Kebayoran, pulangnya naik KRL biar cepet sampe rumah. Berangkat dari rumah temen jam setengah 12, sampe Stasiun jam 12 kurang dikit lah. Sampe di Stasiun, gue langsung ke loket terdekat untuk beli karcis. Kebetulan ada di pinggir peron arah Merak. Ternyata, loket itu udah beralih fungsi menjadi tempat ngadem orang-orang di sekitar situ.
Tiket udah di kantong, gue duduk di sebatang besi bekas rel yang dijadiin kursi dengan tenang. Setengah jam berlalu, KRL Commuter Line tujuan Manggarai pun masuk jalur 2. Dengan sigap gue siap-siap di dua kereta paling belakang karena gak jauh dari tempat gue duduk. Ternyata yang dateng adalah KRL Esspass modifikasi BY Manggarai. Pas masuk, LUAR BINASA! Panas banget di dalem KRL. Emang sih, dari eksteriornya udah ketauan. Kaca KRL mayoritas dibuka. Satu-satunya jalan .... Syukuri apa yang ada *edisi D’Masiv* Dengan enjoy gue nikmati perjalanan ’sauna’ Kebayoran – Manggarai. Inilah kondisi armada KRL lintas Parung Panjang – Manggarai/Jakarta Kota. Tapi, semuanya gak begini juga. Kadang-kadang KRL TM 05/TM 7000 wara-wiri di lintas ini. Harusnya di dalem KRL ada 2 AC split sebagai pengganti AC yang gak keluar anginnya itu.
Sampe di Stasiun Manggarai, rasanya gue bahagia bisa ngehirup udara bebas setelah setengah jam ’sauna’ di dalem KRL. Beberapa saat kemudian, KA Cirebon Ekspress lewat dengan sukses (?) Lalu, KRL Commuter Line Esspass pulang ke Bukit Duri.
Sekian dulu laporan perjalanan kali ini! Waspadalah terhadap KRL yang anda naiki. Siapa tau senasib panasnya!
Minggu kemaren, gue main di rumah temen gue di daerah Permata Hijau. Karena rumahnya deket Stasiun Kebayoran, pulangnya naik KRL biar cepet sampe rumah. Berangkat dari rumah temen jam setengah 12, sampe Stasiun jam 12 kurang dikit lah. Sampe di Stasiun, gue langsung ke loket terdekat untuk beli karcis. Kebetulan ada di pinggir peron arah Merak. Ternyata, loket itu udah beralih fungsi menjadi tempat ngadem orang-orang di sekitar situ.
Tiket udah di kantong, gue duduk di sebatang besi bekas rel yang dijadiin kursi dengan tenang. Setengah jam berlalu, KRL Commuter Line tujuan Manggarai pun masuk jalur 2. Dengan sigap gue siap-siap di dua kereta paling belakang karena gak jauh dari tempat gue duduk. Ternyata yang dateng adalah KRL Esspass modifikasi BY Manggarai. Pas masuk, LUAR BINASA! Panas banget di dalem KRL. Emang sih, dari eksteriornya udah ketauan. Kaca KRL mayoritas dibuka. Satu-satunya jalan .... Syukuri apa yang ada *edisi D’Masiv* Dengan enjoy gue nikmati perjalanan ’sauna’ Kebayoran – Manggarai. Inilah kondisi armada KRL lintas Parung Panjang – Manggarai/Jakarta Kota. Tapi, semuanya gak begini juga. Kadang-kadang KRL TM 05/TM 7000 wara-wiri di lintas ini. Harusnya di dalem KRL ada 2 AC split sebagai pengganti AC yang gak keluar anginnya itu.
Sampe di Stasiun Manggarai, rasanya gue bahagia bisa ngehirup udara bebas setelah setengah jam ’sauna’ di dalem KRL. Beberapa saat kemudian, KA Cirebon Ekspress lewat dengan sukses (?) Lalu, KRL Commuter Line Esspass pulang ke Bukit Duri.
Sekian dulu laporan perjalanan kali ini! Waspadalah terhadap KRL yang anda naiki. Siapa tau senasib panasnya!
Rabu, 28 September 2011
Perubahan Jadwal KRL
Dalam Rangka rehabilitasi dan pemadaman gardu listrik aliran listrik, 29 perjalanan KRL lintas Manggarai - Bogor DIBATALKAN. Perubahan/pembatalan jadwal:
1. 5501 commuter line Relasi Bogor - Jakarta, pukul 05.50
2. 5013 commuter line Relasi Bogor - Jakarta, pukul 06.40
3. 5015 commuter line Relasi Bogor - Jakarta, pukul 07.05
4. 5761 KRL Ekonomi Relasi Bogor - Jakarta, pukul 07.15
5. 5767A KRL Ekonomi Relasi Bogor - Jakarta, pukul 08.00
6. 5523 commuter line Relasi Bogor - Jakarta, pukul 17.40
7. 5795A KRL Ekonomi BATAL hanya lintas Bogor - Depok 18.10 / berjalan
relasi Depok - Jakarta pukul 18.40
8. 5639A commuter line Relasi Bogor - Depok, pukul 18.55
9. 5059 commuter line BATAL hanya lintas Bogor - Depok 19.20 / berjalan
relasi Depok - Jakarta pukul 19.45
10. 5133 commuter line Relasi Bogor - Depok, pukul 20.35
11. 5531 commuter line Relasi Bogor - Depok, pukul 21.20
12. 5805 KRL Ekonomi Relasi Bogor - Depok, pukul 21. 43
13. 5067 commuter line Relasi Bogor - Depok, pukul 21.50
14. 5134 commuter line Relasi Depok - Bogor, pukul 06.00
15. 5812 KRL Ekonomi Relasi Depok - Bogor, pukul 06.30
16. 5754 KRL Ekonomi BATAL Lintas Depok - Bogor / berjalan Jakarta -
Depok, pukul 06.20
17. 5502 commuter line Relasi Jakarta - Bogor, pukul 07.20
18. 5008 commuter line Relasi Jakarta - Bogor, pukul 08.15
19. 5010 commuter line Relasi Jakarta - Bogor, pukul 08.51
20. 5762 KRL Ekonomi Relasi Jakarta - Bogor, pukul 08.56
21. 5818A KRL Ekonomi Relasi Jakarta - Bogor, pukul 09.35
22. 5782 KRL Ekonomi BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Jakarta - Depok, pukul 16.36
23. 5040 commuter line BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Jakarta - Depok, pukul 17.10
24. 5136A commuter line BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Tanah Abang - Depok, pukul 17.25
25. 5054 commuter BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan Tanah
Abang - Depok, pukul 19.08
26. 5524 commuter line Relasi Jakarta - Bogor, pukul 19.10
27. 5526 commuter line BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Jakarta - Depok, pukul 19.32
28. 5798 KRL Ekonomi BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Jakarta - Depok, pukul 20.16
29. 5058 commuter line BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Manggarai - Depok, pukul 20.40
Pembatalan ini berlaku mulai tanggal 19 Oktober - 29 November 2011. Untuk lebih lanjut, tanyakan pada petugas loket/lihat di "mading" yang terletak tak jauh dari loket.
(sumber: http://www.facebook.com/#!/permalink.php?story_fbid=10150330783360665&id=183660530664; http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/10/07/pekerja-bakal-terlantar-pembatalan-20-jadwal-kereta-jakarta-bogor/)
1. 5501 commuter line Relasi Bogor - Jakarta, pukul 05.50
2. 5013 commuter line Relasi Bogor - Jakarta, pukul 06.40
3. 5015 commuter line Relasi Bogor - Jakarta, pukul 07.05
4. 5761 KRL Ekonomi Relasi Bogor - Jakarta, pukul 07.15
5. 5767A KRL Ekonomi Relasi Bogor - Jakarta, pukul 08.00
6. 5523 commuter line Relasi Bogor - Jakarta, pukul 17.40
7. 5795A KRL Ekonomi BATAL hanya lintas Bogor - Depok 18.10 / berjalan
relasi Depok - Jakarta pukul 18.40
8. 5639A commuter line Relasi Bogor - Depok, pukul 18.55
9. 5059 commuter line BATAL hanya lintas Bogor - Depok 19.20 / berjalan
relasi Depok - Jakarta pukul 19.45
10. 5133 commuter line Relasi Bogor - Depok, pukul 20.35
11. 5531 commuter line Relasi Bogor - Depok, pukul 21.20
12. 5805 KRL Ekonomi Relasi Bogor - Depok, pukul 21. 43
13. 5067 commuter line Relasi Bogor - Depok, pukul 21.50
14. 5134 commuter line Relasi Depok - Bogor, pukul 06.00
15. 5812 KRL Ekonomi Relasi Depok - Bogor, pukul 06.30
16. 5754 KRL Ekonomi BATAL Lintas Depok - Bogor / berjalan Jakarta -
Depok, pukul 06.20
17. 5502 commuter line Relasi Jakarta - Bogor, pukul 07.20
18. 5008 commuter line Relasi Jakarta - Bogor, pukul 08.15
19. 5010 commuter line Relasi Jakarta - Bogor, pukul 08.51
20. 5762 KRL Ekonomi Relasi Jakarta - Bogor, pukul 08.56
21. 5818A KRL Ekonomi Relasi Jakarta - Bogor, pukul 09.35
22. 5782 KRL Ekonomi BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Jakarta - Depok, pukul 16.36
23. 5040 commuter line BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Jakarta - Depok, pukul 17.10
24. 5136A commuter line BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Tanah Abang - Depok, pukul 17.25
25. 5054 commuter BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan Tanah
Abang - Depok, pukul 19.08
26. 5524 commuter line Relasi Jakarta - Bogor, pukul 19.10
27. 5526 commuter line BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Jakarta - Depok, pukul 19.32
28. 5798 KRL Ekonomi BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Jakarta - Depok, pukul 20.16
29. 5058 commuter line BATAL Hanya lintas Depok - Bogor / berjalan
Manggarai - Depok, pukul 20.40
Pembatalan ini berlaku mulai tanggal 19 Oktober - 29 November 2011. Untuk lebih lanjut, tanyakan pada petugas loket/lihat di "mading" yang terletak tak jauh dari loket.
(sumber: http://www.facebook.com/#!/permalink.php?story_fbid=10150330783360665&id=183660530664; http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/10/07/pekerja-bakal-terlantar-pembatalan-20-jadwal-kereta-jakarta-bogor/)
Jumat, 16 September 2011
Laporan Perjalanan: Gambir - Pasar Minggu - Cawang
Jum'at kemarin, guru-guru mengadakan halal bi halal yang menyebabkan murid kelas 10 dan 11 pulang lebih cepet dari biasanya *pasang petasan* Kebetulan gue harus ke LIA Pasar Minggu karena student card LIA Cibubur yang gue punya udah gak berlaku, dan ojek gue gak bisa nganter karena harus nganter anaknya ke RSCM untuk ngecek kondisi anaknya pasca-operasi.
Setelah Sholat Jum'at, gue langsung menuju LIA. Karena lagi nyantai, gue muter2 Jakarta naik Busway menuju Stasiun Gambir. Di Halte Monas, gue berdiri cukup lama karena bus yang gue naiki tak kunjung datang. Saat bus yang gue naiki dateng, petugasnya bilang, "Jangan semua naik ya! Bus ini bannya kempes". Beginilah transportasi massal di Jakarta. Seharusnya pihak Trans-Jakarta menyiapkan bus cadangan apabila bus lain mengalami gangguan.
Tepat pukul 14.00, gue sampe Stasiun Gambir dengan penuh perjuangan *lempar bata* Gue langsung ke loket buat beli karcis seharga Rp 6000 karena cuma sampe Stasiun Pasar Minggu. Tiket udah di kantong, gue meditasi dulu ke lantai dasar (baca: ke kamar mandi). Setelah meditasi, gue naik ke peron jalur tiga karena KRL udah menunggu. Untungnya, gue naik KRL TM 7000 yang baru beroperasi beberapa bulan di Jakarta. Kondisi AC-nya masih bagus, jadi gak kepanasan.
Sampai di Stasiun Pasar Minggu, ada tiga orang bule lagi kebingungan karena gak tahu mana kereta menuju Jakarta. Padahal, di pintu masuk terdapat papan penunjuk arah kereta. Ternyata lucu juga kalo ngeliat muka bule lagi kesasar.
Setengah jam di LIA, gue langsung bergegas ke Stasiun Pasar Minggu naik M.16. Sampai di Stasiun Pasar Minggu, gue beli karcis tujuan Stasiun Cawang. Pas ngerapihin kembalian, ternyata KRL Commuter Line tujuan Jakarta udah berangkat. Tapi, gue tetep tenang karena yang berangkat adalah KRL EMU 8500. Dengan penuh pengharapan KRL yang datang adalah KRL TM 7000/6000, gue menunggu. Sepuluh menit kemudian, PPKA mengumumkan kalo KRL Commuter Line tujuan Jakarta akan masuk jalur tiga. Terlihat dari kejauhan, KRL yang datang adalah ...... KRL EMU 8500! *penonton kecewa* Daripada menunggu KRL berikutnya, lebih baik naik KRL ini. Perkiraan gue 100% akurat, AC di dalam KRL gak terasa anginnya. Kipas angin yang tersedia di dalam kereta gak bisa berputar sebagaimana mestinya. Ya gitu deh Transportasi massal di Jakarta. Seharusnya AC yang gak dingin diperbaiki, atau dipasang AC Split daripada pake kipas angin yang tidak setara dinginnya. Keluar dari kereta, hampir seluruh badan gue keringetan karena posisi gue berdiri gak kebagian kipas angin.
Kesimpulannya, pelayanan transportasi massal di jakarta masih jauh dari layak karena banyak kelemahan di sana-sini. Tulisan ini bukannya untuk menjelek-jelekkan salah satu pihak, tetapi memang nyatanya seperti itu. Semoga pelayanan transportasi massal bisa lebih baik lagi seperti di Singapura bahkan Jepang.
Sekian.
Setelah Sholat Jum'at, gue langsung menuju LIA. Karena lagi nyantai, gue muter2 Jakarta naik Busway menuju Stasiun Gambir. Di Halte Monas, gue berdiri cukup lama karena bus yang gue naiki tak kunjung datang. Saat bus yang gue naiki dateng, petugasnya bilang, "Jangan semua naik ya! Bus ini bannya kempes". Beginilah transportasi massal di Jakarta. Seharusnya pihak Trans-Jakarta menyiapkan bus cadangan apabila bus lain mengalami gangguan.
Tepat pukul 14.00, gue sampe Stasiun Gambir dengan penuh perjuangan *lempar bata* Gue langsung ke loket buat beli karcis seharga Rp 6000 karena cuma sampe Stasiun Pasar Minggu. Tiket udah di kantong, gue meditasi dulu ke lantai dasar (baca: ke kamar mandi). Setelah meditasi, gue naik ke peron jalur tiga karena KRL udah menunggu. Untungnya, gue naik KRL TM 7000 yang baru beroperasi beberapa bulan di Jakarta. Kondisi AC-nya masih bagus, jadi gak kepanasan.
Sampai di Stasiun Pasar Minggu, ada tiga orang bule lagi kebingungan karena gak tahu mana kereta menuju Jakarta. Padahal, di pintu masuk terdapat papan penunjuk arah kereta. Ternyata lucu juga kalo ngeliat muka bule lagi kesasar.
Setengah jam di LIA, gue langsung bergegas ke Stasiun Pasar Minggu naik M.16. Sampai di Stasiun Pasar Minggu, gue beli karcis tujuan Stasiun Cawang. Pas ngerapihin kembalian, ternyata KRL Commuter Line tujuan Jakarta udah berangkat. Tapi, gue tetep tenang karena yang berangkat adalah KRL EMU 8500. Dengan penuh pengharapan KRL yang datang adalah KRL TM 7000/6000, gue menunggu. Sepuluh menit kemudian, PPKA mengumumkan kalo KRL Commuter Line tujuan Jakarta akan masuk jalur tiga. Terlihat dari kejauhan, KRL yang datang adalah ...... KRL EMU 8500! *penonton kecewa* Daripada menunggu KRL berikutnya, lebih baik naik KRL ini. Perkiraan gue 100% akurat, AC di dalam KRL gak terasa anginnya. Kipas angin yang tersedia di dalam kereta gak bisa berputar sebagaimana mestinya. Ya gitu deh Transportasi massal di Jakarta. Seharusnya AC yang gak dingin diperbaiki, atau dipasang AC Split daripada pake kipas angin yang tidak setara dinginnya. Keluar dari kereta, hampir seluruh badan gue keringetan karena posisi gue berdiri gak kebagian kipas angin.
Kesimpulannya, pelayanan transportasi massal di jakarta masih jauh dari layak karena banyak kelemahan di sana-sini. Tulisan ini bukannya untuk menjelek-jelekkan salah satu pihak, tetapi memang nyatanya seperti itu. Semoga pelayanan transportasi massal bisa lebih baik lagi seperti di Singapura bahkan Jepang.
Sekian.
Senin, 22 Agustus 2011
Trans-Jakarta Koridor 9, Menikmati Pelayanan atau Mendatangkan Masalah?
Hampir satu tahun bus Trans-Jakarta koridor 9 wara-wiri Pinang Ranti-Pluit PP. Ada yang senang dengan adanya bus ini, dan ada pula yang tidak senang termasuk gue. Enaknya naik busway sih bisa pindah koridor tanpa beli tiket lagi, punya jalan sendiri sehingga perjalanan lebih cepet, dan sebagainya. Tapi, ada nggak enaknya juga. Kalo sore (apalagi pas bulan Ramadhan), jalur khususnya sering diserobot sepeda motor dan bus kota, kedatangannya yang nggak pasti, jumlah orang yang melebihi kapasitas penumpang yang menyebabkan sulit bergerak dan bernafas, terkadang busnya mogok, dan sebagainya. Hal ini justru menimbulkan masalah baru terhadap transportasi massal di DKI Jakarta. Parahnya lagi, bus kota yang bersinggungan dengan jalur busway dilarang beroperasi.
Misalnya bus Mayasari Bakti P.6 dengan rute Kp. Rambutan-Grogol dan bus PPD 46 dengan rute Cililitan-Grogol. Bus ini sudah tidak terlihat sejak pengoperasian Trans-Jakarta karena rutenya bersinggungan dengan koridor 9. Apabila mereka nekat beroperasi, maka busnya akan disita oleh pihak Dishub. Padahal, armada busway tidak sebanding dengan bus-bus yang dilarang beroperasi tersebut.
Setelah beberapa bulan tak beroperasi, akhirnya ada beberapa bus yang nekat beroperasi karena mereka harus mencari uang untuk makan sehari-hari. Misalnya bus Mayasari Bakti P.2 dengan rute Kp. Rambutan-Grogol dan P.55 dengan rute Kp. Melayu-Grogol. Tetapi, inti dari rute tersebut adalah Cililitan-Grogol karena sesampainya di Cililitan semua penumpang turun dan tak ada penumpang yang naik menuju Kp. Rambutan. Biasanya bus ini mangkal bersama PPD 45 di dekat perempatan UKI. Tarifnya berkisar antara Rp 2000 sampai Rp 3000. Lumayan murah untuk rute yang cukup panjang. Fasilitas yang diberikan emang pas-pasan, tetapi kelebihan bus ini adalah bisa dapet tempat duduk. Sedangkan, naik Trans-Jakarta belum tentu dapet tempat duduk. Beberapa dari bus ini lewat tol dalam kota karena keadaan bus sangat penuh dan penumpang ingin cepat sampai di tempat kerjanya. Selain itu, waktu tempuh bus ini lebih cepat daripada busway. Nggak percaya? Silahkan coba sendiri.
Karena tak berani beroperasi, beberapa armada PPD 46 yang tidak disita menggantikan armada P.67 (Blok M-Senen via Cikini) yang tidak layak jalan. Ada pula rute yang "reinkarnasi", yaitu P.41 (Kp. Rambutan-Harmoni via Manggarai). Tetapi, kenyataannya hanya sampai Pancoran saja karena tidak ada yang naik sampai Harmoni. Bus ini biasanya mangkal di perempatan Pancoran Tugu. Ada juga yang mangkal di Cililitan dan Stasiun Cawang. Ternyata, bus ini masih banyak peminatnya biarpun hanya melayani rute Cililitan-Pancoran saja. Mungkin karena lebih praktis dibandingkan busway yang harus naik tangga menuju halte.
Seharusnya pihak Dishub memertimbangkan keadaan di lapangan sebelum mencabut rute bus kota. Karena bus kota adalah transportasi massal yang sangat diperlukan walaupun bersinggungan dengan koridor busway. Kenyataannya, banyak penumpang yang (terpaksa) menunggu di halte busway karena bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Apalagi di saat pulang kerja, jalur busway sering 'dibombardir' oleh sepeda motor dan mobil pribadi yang membuat perjalanannya terhambat. Sebenernya, tanpa busway kemacetan bisa diurai. Hanya saja, caranya bukan seperti itu.
Sekian.
Misalnya bus Mayasari Bakti P.6 dengan rute Kp. Rambutan-Grogol dan bus PPD 46 dengan rute Cililitan-Grogol. Bus ini sudah tidak terlihat sejak pengoperasian Trans-Jakarta karena rutenya bersinggungan dengan koridor 9. Apabila mereka nekat beroperasi, maka busnya akan disita oleh pihak Dishub. Padahal, armada busway tidak sebanding dengan bus-bus yang dilarang beroperasi tersebut.
Setelah beberapa bulan tak beroperasi, akhirnya ada beberapa bus yang nekat beroperasi karena mereka harus mencari uang untuk makan sehari-hari. Misalnya bus Mayasari Bakti P.2 dengan rute Kp. Rambutan-Grogol dan P.55 dengan rute Kp. Melayu-Grogol. Tetapi, inti dari rute tersebut adalah Cililitan-Grogol karena sesampainya di Cililitan semua penumpang turun dan tak ada penumpang yang naik menuju Kp. Rambutan. Biasanya bus ini mangkal bersama PPD 45 di dekat perempatan UKI. Tarifnya berkisar antara Rp 2000 sampai Rp 3000. Lumayan murah untuk rute yang cukup panjang. Fasilitas yang diberikan emang pas-pasan, tetapi kelebihan bus ini adalah bisa dapet tempat duduk. Sedangkan, naik Trans-Jakarta belum tentu dapet tempat duduk. Beberapa dari bus ini lewat tol dalam kota karena keadaan bus sangat penuh dan penumpang ingin cepat sampai di tempat kerjanya. Selain itu, waktu tempuh bus ini lebih cepat daripada busway. Nggak percaya? Silahkan coba sendiri.
Karena tak berani beroperasi, beberapa armada PPD 46 yang tidak disita menggantikan armada P.67 (Blok M-Senen via Cikini) yang tidak layak jalan. Ada pula rute yang "reinkarnasi", yaitu P.41 (Kp. Rambutan-Harmoni via Manggarai). Tetapi, kenyataannya hanya sampai Pancoran saja karena tidak ada yang naik sampai Harmoni. Bus ini biasanya mangkal di perempatan Pancoran Tugu. Ada juga yang mangkal di Cililitan dan Stasiun Cawang. Ternyata, bus ini masih banyak peminatnya biarpun hanya melayani rute Cililitan-Pancoran saja. Mungkin karena lebih praktis dibandingkan busway yang harus naik tangga menuju halte.
Seharusnya pihak Dishub memertimbangkan keadaan di lapangan sebelum mencabut rute bus kota. Karena bus kota adalah transportasi massal yang sangat diperlukan walaupun bersinggungan dengan koridor busway. Kenyataannya, banyak penumpang yang (terpaksa) menunggu di halte busway karena bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Apalagi di saat pulang kerja, jalur busway sering 'dibombardir' oleh sepeda motor dan mobil pribadi yang membuat perjalanannya terhambat. Sebenernya, tanpa busway kemacetan bisa diurai. Hanya saja, caranya bukan seperti itu.
Sekian.
Minggu, 21 Agustus 2011
Nasib KRL Commuter Line
Sejak pemberlakuan KRL Commuter Line tanggal 2 Juli 2011 lalu, banyak yang berubah dari pelayanan KRL di Jakarta. Inilah beberapa perubahan dari pelayanan KRL Commuter Line & KRL Ekonomi panas:
Pertama, bertambahnya waktu tempuh yang biasanya satu jam sampai Gambir/Jakartakota, sekarang harus dua jam bahkan lebih karena semua KRL berhenti di setiap stasiun.
Kedua, kurangnya armada KRL yang melayani. Padahal, beberapa minggu lalu KRL 'baru' seri JR-203 'mendarat' di Pelabuhan Tanjung Priok. Sebenernya bukan armada KRL yang kurang, tetapi pasokan listrik yang kurang memadai terutama di jalur Tanah Abang - Parungpanjang. Hal ini menyebabkan kurangnya jadwal perjalanan KRL tujuan Serpong/Parungpanjang.
Ketiga, berkurangnya jadwal perjalanan KRL yang menyebabkan terjadinya penumpukan penumpang di setiap stasiun. Kadang-kadang, ada segelintir penumpang yang pasang koran/kulipet (Kursi Lipet) karena ga dapet tempat duduk. Padahal ada himbauannya, "dilarang duduk di lantai atau duduk dengan menggunakan kursi lipat". Biasanya ibu-ibu yang ga kuat berdiri pada bawa kulipet. Padahal di ujung-ujung KRL disediakan Kereta Khusus Wanita (KKW). Parahnya, hal ini kadang-kadang (malahan sering) membuat ratusan penumpang nekat naik ke atap KRL dan bergelantungan layaknya KRL Ekonomi panas. Beberapa penumpang memanfaatkan momen ini untuk naik KRL gratis alias ga beli tiket/udah beli KRL Ekonomi panas tapi pengen cepet pulang. Biasanya hal tersebut terjadi di Stasiun Manggarai, Stasiun Tebet, Stasiun Depok Lama, dan sebagainya. Seandainya atap KRL mendadak roboh, bagaimana nasib penumpang di 'kursi eksklusif'?
Keempat, KRL Commuter Line sering disusul KA jarak jauh di Stasiun Gambir/Manggarai gara-gara KA jarak jauh lebih diprioritaskan dibandingkan KRL tersebut. Kadang-kadang KRL Commuter Line/Ekonomi panas berhenti di Stasiun Manggarai bisa 10-20 menit demi KA jarak jauh, dan 5-10 menit berhenti di sinyal masuk Stasiun Manggarai untuk hal yang sama.
Kelima, ketidakhandalan KRL Ekonomi panas ketika beroperasi. Salah satunya adalah KRL BN-HOLEC. KRL yang berasal dari negeri kincir angin ini adalah KRL yang dinobatkan sebagai "Si Jago Mogok". Maksudnya, KRL ini sering mogok ketika beroperasi. Padahal, KRL ini mulai beroperasi pada tahun 1996. Hanya saja, KRL ini sangat sensitif terhadap kondisi listrik dan lintasan. Waktu itu gue baca di GM-MarKA, armada KRL ini tinggal 24 unit (tiga set. satu set = delapan kereta) yang awalnya berjumlah 128 unit.
Inilah beberapa gambar KRL Commuter Line & KRL Ekonomi panas saat beroperasi.
SadPanda.us - 621425-TKELCTZ.jpg
Kalo yang ini mungkin biasa
SadPanda.us - 621428-OK4HVH4.jpg
Murahnya harga nyawa di Indonesia. Bisa dibeli di Pramuka/rumah sakit terdekat.
SadPanda.us - 621431-AXC87QF.jpg
Buta warna. KRL Commuter Line dikira KRL Ekonomi panas
Seharusnya KRL Ekspress jangan dihapus, tetapi diberi jadwal khusus di pagi hari dan sore hari sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang di beberapa stasiun. Kalo untuk KRL Ekonomi panas mungkin emang begitu keadaannya, sulit untuk diubah karena penggunanya susah diatur. Tulisan ini dibuat bukan untuk nyindir PT. KCJ/penumpang setia KRL, melainkan untuk introspeksi diri agar pelayanan semakin baik dan tidak merusak fasilitas yang telah disediakan.
Pertama, bertambahnya waktu tempuh yang biasanya satu jam sampai Gambir/Jakartakota, sekarang harus dua jam bahkan lebih karena semua KRL berhenti di setiap stasiun.
Kedua, kurangnya armada KRL yang melayani. Padahal, beberapa minggu lalu KRL 'baru' seri JR-203 'mendarat' di Pelabuhan Tanjung Priok. Sebenernya bukan armada KRL yang kurang, tetapi pasokan listrik yang kurang memadai terutama di jalur Tanah Abang - Parungpanjang. Hal ini menyebabkan kurangnya jadwal perjalanan KRL tujuan Serpong/Parungpanjang.
Ketiga, berkurangnya jadwal perjalanan KRL yang menyebabkan terjadinya penumpukan penumpang di setiap stasiun. Kadang-kadang, ada segelintir penumpang yang pasang koran/kulipet (Kursi Lipet) karena ga dapet tempat duduk. Padahal ada himbauannya, "dilarang duduk di lantai atau duduk dengan menggunakan kursi lipat". Biasanya ibu-ibu yang ga kuat berdiri pada bawa kulipet. Padahal di ujung-ujung KRL disediakan Kereta Khusus Wanita (KKW). Parahnya, hal ini kadang-kadang (malahan sering) membuat ratusan penumpang nekat naik ke atap KRL dan bergelantungan layaknya KRL Ekonomi panas. Beberapa penumpang memanfaatkan momen ini untuk naik KRL gratis alias ga beli tiket/udah beli KRL Ekonomi panas tapi pengen cepet pulang. Biasanya hal tersebut terjadi di Stasiun Manggarai, Stasiun Tebet, Stasiun Depok Lama, dan sebagainya. Seandainya atap KRL mendadak roboh, bagaimana nasib penumpang di 'kursi eksklusif'?
Keempat, KRL Commuter Line sering disusul KA jarak jauh di Stasiun Gambir/Manggarai gara-gara KA jarak jauh lebih diprioritaskan dibandingkan KRL tersebut. Kadang-kadang KRL Commuter Line/Ekonomi panas berhenti di Stasiun Manggarai bisa 10-20 menit demi KA jarak jauh, dan 5-10 menit berhenti di sinyal masuk Stasiun Manggarai untuk hal yang sama.
Kelima, ketidakhandalan KRL Ekonomi panas ketika beroperasi. Salah satunya adalah KRL BN-HOLEC. KRL yang berasal dari negeri kincir angin ini adalah KRL yang dinobatkan sebagai "Si Jago Mogok". Maksudnya, KRL ini sering mogok ketika beroperasi. Padahal, KRL ini mulai beroperasi pada tahun 1996. Hanya saja, KRL ini sangat sensitif terhadap kondisi listrik dan lintasan. Waktu itu gue baca di GM-MarKA, armada KRL ini tinggal 24 unit (tiga set. satu set = delapan kereta) yang awalnya berjumlah 128 unit.
Inilah beberapa gambar KRL Commuter Line & KRL Ekonomi panas saat beroperasi.
SadPanda.us - 621425-TKELCTZ.jpg
Kalo yang ini mungkin biasa
SadPanda.us - 621428-OK4HVH4.jpg
Murahnya harga nyawa di Indonesia. Bisa dibeli di Pramuka/rumah sakit terdekat.
SadPanda.us - 621431-AXC87QF.jpg
Buta warna. KRL Commuter Line dikira KRL Ekonomi panas
Seharusnya KRL Ekspress jangan dihapus, tetapi diberi jadwal khusus di pagi hari dan sore hari sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang di beberapa stasiun. Kalo untuk KRL Ekonomi panas mungkin emang begitu keadaannya, sulit untuk diubah karena penggunanya susah diatur. Tulisan ini dibuat bukan untuk nyindir PT. KCJ/penumpang setia KRL, melainkan untuk introspeksi diri agar pelayanan semakin baik dan tidak merusak fasilitas yang telah disediakan.
Jumat, 22 Juli 2011
Commuter Line
KRL Commuter Line. Sesuai dengan namanya, jenis KRL ini kerjaannya muter-muter ngangkut penumpang. Tapi, kadang-kadang jadwalnya juga muter-muter karena sering terlambat. Sebenernya sih KRL ini sama kayak KRL Ekonomi AC, tapi jadwalnya lebih banyak daripada KRL Ekonomi AC yang lama. Tadi sore, gue coba naik KRL Commuter Line ke Stasiun Cawang dari Stasiun Sudirman. Kenapa gak naik Busway? Kabarnya, ada kecelakaan Busway nabrak motor di daerah Glodok & Monas yang bikin Busway jarang lewat. Pas beli karcis, gue nanya dulu ke petugasnya. Saat itu jam 15.10
G: "Mas, Commuter Line (CL) yang ke Bogor/Depok jam berapa?"
P: "Jam 16.30".
G: "Yah, lama amat. Bisa oper KRL di Manggarai gak?"
P: "Bisa dek. Bentar lagi, ada KRL Ekonomi ke Bekasi. Kamu naik itu, terus turun di Manggarai. Nah, abis itu kamu naik CL deh sampe tujuan kamu".
G: Gue
P: Petugas Loket
G: "Tapi kalo pake KRL Ekonomi bayar lagi gak?" <- maunya gratisan
P: "Gak usah. Kalo ada kondektur yang lewat, bilang aja terusan ke Bogor".
G: "Oh, ya udah deh".
Ribet juga ya. Di jam orang mulai pulang ke rumah KRL-nya malah ga ada. Ya udah, gue beli tuh tiket. Gak lama kemudian, KRL Ekonomi jurusan Bekasi dateng. Keadaannya sih sepi. Maklum, baru berhenti di Tanah Abang & Karet. Perjalanan dari Stasiun Sudirman ke Stasiun Manggarai sekitar 5-10 menit. Sampe Stasiun Manggarai, gue shalat Ashar dulu di Musholla Stasiun. Abis itu, gue nunggu KRL CL yang jam 15.56 gara-gara keasikan lihat-lihat KRL. Peronnya sih lumayan rame. Soalnya, banyak penumpang yang nunggu KA Senja Bengawan jurusan Solo Jebres. Setelah nunggu 20 menit, KRL pun dateng.
Pas masuk KRL, ada 6 orang yang duduk di deket pintu beralaskan koran. Kaget juga. Soalnya, kalo gak salah ada larangan untuk duduk di lantai KRL. Karena gak ada tempat duduk, gue pun berdiri. KRL yang gue naikin berhentinya agak lama gak tau kenapa. Maklum lah, lalu lintas KA di Stasiun Manggarai luar biasa padat. Setelah melewati berbagai wesel, KRL pun melaju agak kenceng. Baru bentar ngebut, KRL harus berhenti di Stasiun Tebet. Gak lama berhenti, KRL berangkat lagi. Tapi, KRL yang gue naikin kayak gak ada tenaganya alias lambat. Pantesan KRL sering terlambat. Setelah nunggu ratusan tahun (?), akhirnya sampe di Stasiun Cawang. Lalu, gue naik ojek sampe rumah.
Inilah sedikit cerita tentang KRL yang pelayanannya ..... Bisa dibilang standar bahkan kurang. Itu terserah pembaca mau menilai apa.
Nih, gue kasih jadwal KRL Commuter Line & KRL Ekonomi yang berhenti di Stasiun Sudirman. Semoga bermanfaat buat para pembaca.
Dari Bogor/Depok ke Tanah Abang
06.10* (diteruskan ke Angke)
06.13
06.36
07.07 (diteruskan ke Kampung Bandan)
07.20**
07.52
08.26**
09.21
09.26
09.51 (diteruskan ke Angke)
12.31**
15.28**(diteruskan ke Kampung Bandan)
16.31**
16.52
17.11
17.26
19.14
20.16
Dari Tanah Abang ke Bogor/Depok
06.29
06.52 (jurusan Depok)
06.55
07.38 (jurusan Depok)
07.48* (jurusan Depok)
08.07 (hanya sampai Manggarai)
08.45* (jurusan Depok)
09.41
09.50 (hanya sampai Manggarai)
10.31
13.03*
16.30*
16.50*
17.08
17.18
17.30 (jurusan Depok)
19.13
19.31
20.50
yang gak ada keterangan: KRL Commuter Line jurusan Tanah Abang
* : Hari Minggu/Libur batal
** : KRL Ekonomi
Satu lagi. Apabila KRL terlambat, jangan marah. Karena KRL terlambat adalah hal yang biasa.
Sekian
G: "Mas, Commuter Line (CL) yang ke Bogor/Depok jam berapa?"
P: "Jam 16.30".
G: "Yah, lama amat. Bisa oper KRL di Manggarai gak?"
P: "Bisa dek. Bentar lagi, ada KRL Ekonomi ke Bekasi. Kamu naik itu, terus turun di Manggarai. Nah, abis itu kamu naik CL deh sampe tujuan kamu".
G: Gue
P: Petugas Loket
G: "Tapi kalo pake KRL Ekonomi bayar lagi gak?" <- maunya gratisan
P: "Gak usah. Kalo ada kondektur yang lewat, bilang aja terusan ke Bogor".
G: "Oh, ya udah deh".
Ribet juga ya. Di jam orang mulai pulang ke rumah KRL-nya malah ga ada. Ya udah, gue beli tuh tiket. Gak lama kemudian, KRL Ekonomi jurusan Bekasi dateng. Keadaannya sih sepi. Maklum, baru berhenti di Tanah Abang & Karet. Perjalanan dari Stasiun Sudirman ke Stasiun Manggarai sekitar 5-10 menit. Sampe Stasiun Manggarai, gue shalat Ashar dulu di Musholla Stasiun. Abis itu, gue nunggu KRL CL yang jam 15.56 gara-gara keasikan lihat-lihat KRL. Peronnya sih lumayan rame. Soalnya, banyak penumpang yang nunggu KA Senja Bengawan jurusan Solo Jebres. Setelah nunggu 20 menit, KRL pun dateng.
Pas masuk KRL, ada 6 orang yang duduk di deket pintu beralaskan koran. Kaget juga. Soalnya, kalo gak salah ada larangan untuk duduk di lantai KRL. Karena gak ada tempat duduk, gue pun berdiri. KRL yang gue naikin berhentinya agak lama gak tau kenapa. Maklum lah, lalu lintas KA di Stasiun Manggarai luar biasa padat. Setelah melewati berbagai wesel, KRL pun melaju agak kenceng. Baru bentar ngebut, KRL harus berhenti di Stasiun Tebet. Gak lama berhenti, KRL berangkat lagi. Tapi, KRL yang gue naikin kayak gak ada tenaganya alias lambat. Pantesan KRL sering terlambat. Setelah nunggu ratusan tahun (?), akhirnya sampe di Stasiun Cawang. Lalu, gue naik ojek sampe rumah.
Inilah sedikit cerita tentang KRL yang pelayanannya ..... Bisa dibilang standar bahkan kurang. Itu terserah pembaca mau menilai apa.
Nih, gue kasih jadwal KRL Commuter Line & KRL Ekonomi yang berhenti di Stasiun Sudirman. Semoga bermanfaat buat para pembaca.
Dari Bogor/Depok ke Tanah Abang
06.10* (diteruskan ke Angke)
06.13
06.36
07.07 (diteruskan ke Kampung Bandan)
07.20**
07.52
08.26**
09.21
09.26
09.51 (diteruskan ke Angke)
12.31**
15.28**(diteruskan ke Kampung Bandan)
16.31**
16.52
17.11
17.26
19.14
20.16
Dari Tanah Abang ke Bogor/Depok
06.29
06.52 (jurusan Depok)
06.55
07.38 (jurusan Depok)
07.48* (jurusan Depok)
08.07 (hanya sampai Manggarai)
08.45* (jurusan Depok)
09.41
09.50 (hanya sampai Manggarai)
10.31
13.03*
16.30*
16.50*
17.08
17.18
17.30 (jurusan Depok)
19.13
19.31
20.50
yang gak ada keterangan: KRL Commuter Line jurusan Tanah Abang
* : Hari Minggu/Libur batal
** : KRL Ekonomi
Satu lagi. Apabila KRL terlambat, jangan marah. Karena KRL terlambat adalah hal yang biasa.
Sekian
Langganan:
Postingan (Atom)