Senin, 18 Juni 2012

Carut-marut Pelayanan KRL (2)

Lanjutan dari Carut-marut Pelayanan KRL (1)

Mungkin AC/pendingin ruangan banyak dikomentari penumpang karena sering mati/gak dingin. Di beberapa rangkaian seperti Tokyo Metro 5000/Tokyu 8000 dan 8500/Toyo Rapid 1000, memang AC-nya udah gak ada anginnya alias mati. Kalopun ada anginnya, pasti gak dingin. Gue gak tahu kenapa pemerintah membeli KRL seperti itu. Beredar kabar, armada Tokyo Metro 5000 dan Toyo Rapid 1000 dibeli secara terselubung oleh Dirjen Perkeretaapian saat itu, Soemino Eko Saputro. Padahal, KRL tersebut siap dirucat/dibesituakan karena gak layak pakai lagi. 

Masalah AC gak berhenti di rangkaian itu saja. Banyak rangkaian KRL yang AC-nya hampir almarhum. Salah satunya adalah KRL eks Toei 6000. KRL ini adalah KRL hibah dari kaisar Jepang pada tahun 2000. Pada awal peluncuran, AC-nya bisa dibilang dingin karena KRL yang memiliki fasilitas AC gak ada tandingannya saat itu. Setelah sepuluh tahun beroperasi, filter-nya jarang bahkan gak dibersihkan sehingga udara di dalam KRL menjadi panas. 

Di artikel ini, HD menyatakan bahwa interval waktu antar-KRL akan dipercepat menjadi tiga menit sekali. Pernyataan itu gak spesifik untuk rute mana. Kalo interval itu diperuntukkan untuk rute Jakarta - Bogor, mungkin hanya dongeng sebelum tidur saja. Bukannya gue negative thinking nih. Interval tujuh menit sekali saja KRL belum tentu datang, gimana interval-nya dipercepat? Idenya HD sih bagus, tapi harus dipikirkan sarana dan prasarananya seperti listrik, kelayakan armada KRL, dan sebagainya. 

Artikel ini dibuat bukan untuk merendahkan pelayanan KRL di Jabodetabek, tapi dibuat agar petinggi PT.KAI mengerti apa keluhan penumpang dan segera membenahinya. Itupun terjadi kalo petingginya baca, hehehe.

"Sebuah rencana hebat dapat gagal hanya karena kurangnya kesabaran". - Konfusius

Carut-marut Pelayanan KRL (1)

Memang, pelayanan transportasi umum di Jakarta belum memuaskan. Dari bus reguler, busway serta KRL. Tapi, gue mau bahas tentang pelayanan KRL karena hal itu paling sering muncul di timeline Twitter gue dan beberapa koran.


"Gangguan perjalanan karena kerusakan kereta berkisar 10 - 32 kali per bulan" - Kompas, 11 Juni 2012


Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa pelayanan KRL di Jabodetabek amburadul. Kenapa? Kalo satu bulan ada 30 gangguan, berarti satu hari ada satu gangguan perjalanan KRL. Biasanya, gangguan terjadi di lintas Jakarta - Bogor. Gangguan ini sering dialami KRL Ekonomi karena umurnya terlalu tua dan suku cadangnya susah didapat. KRL Commuter Line tak luput dari gangguan walaupun jarang terjadi. 


Sebenernya, gangguan ini gak perlu terjadi karena di dipo Depok, Bukit Duri, dan beberapa stabling/pool KRL lain  masih tersedia KRL siap pakai. Kalo terjadi gangguan pada KRL, maka KRL cadangan siap dikirim untuk menanggulangi penumpang. Namun, apa yang terjadi? KRL dibiarkan tergeletak di stasiun/petak dimana KRL itu mengalami gangguan, dan tidak menyediakan KRL cadangan sehingga penumpang dibuat geram karena keadaan ini. Bisa dibilang, PT.KCJ belum siap menghadapi hal-hal seperti ini.


Menurut gue, KRL satu kelas lebih baik karena penumpang gak dibuat bingung dengan kelas KRL. Tapi, tarifnya disesuaikan dengan tingkat ekonomi penggunanya. Jangan lupa, pelayanan kepada pengguna tetap menjadi nomor satu. 


Siapa yang setuju sistem transit KRL serta Loop Line? Mungkin gak banyak yang setuju karena gak praktis dan buang-buang waktu. Saat awal pelaksanaan sistem Loop Line, banyak penumpang dari Bekasi mengamuk di Stasiun Manggarai karena KRL Feeder yang mereka tunggu gak lewat-lewat.  Kejadian itu bisa dilihat di sini. Menurut gue, adanya KRL Feeder menguntungkan buat penumpang dari Serpong/Tangerang/Bekasi tujuan Stasiun Sudirman. Tapi, apa kenyataannya? Jadwal KRL Feeder sering meleset dari kedatangan KRL dari tiga rute tersebut  sehingga penumpang gak bisa naik KRL Feeder itu. Mau gak mau, mereka harus menunggu KRL Commuter Line/KRL Ekonomi dari Jatinegara. 


Baru-baru ini, gue baca artikel di sini. Di artikel itu, seseorang yang berinisial HD menyatakan, 


"... di kereta AC tidak ada penumpang yang naik di atap kan". 


Pas gue baca, pernyataan itu seperti bermimpi di siang bolong. Kenapa? Beberapa kali gue 
lihat langsung/di Twitter, KRL Commuter Line sering dinaiki atapers karena minimnya armada KRL dan kedisiplinan terhadap peraturan gak ditegakkan. Dari sini, bisa diambil kesimpulan bahwa banyak dari pejabat yang ngurusin KRL gak pernah naik KRL/melihat secara langsung keadaan KRL di jam sibuk. Gak percaya? Nih, salah satu buktinya.



Maskotnya PT.KCJ aja dikerubungin atapers saat hari pertama pengoperasian single operation. Kalo kejadian ini gak dibenahi, semua armada KRL Commuter Line berevolusi jadi KRL Ekonomi karena pintunya rusak dan terlihat kumuh.

Minggu, 10 Juni 2012

Penggantian Perjalanan KRL Ekonomi

Berikut No KA pada perjalanan KRL Ekonomi yang digantikan dengan KRL Commuter Line.


Rute Bogor - Jakarta PP


809/810 Bogor-Jatinegara 05:18 

811/812 Jatinegara-Depok 07:27 

833 Depok-Jakarta Kota 09:13 

834 Jakarta Kota-Manggarai 10:30 

861 Manggarai-Jakarta Kota 16:13 

862 Jakarta Kota-Bogor 16:44 

879/880 Bogor-Jatinegara 18:59 

881/882 Jatinegara-Bogor 21:12 


Rute Bekasi - Jakarta PP


893 Bekasi-Jakarta Kota 06:45 

894 Jakarta Kota-Bekasi 07:46 

897 Bekasi-Jakarta Kota 09:16 

898 Jakarta Kota-Bekasi 10:25 

899 Bekasi-Jakarta Kota 11:45 

900 Jakarta Kota-Bekasi 12:55 

901 Bekasi-Jakarta Kota 14:08 

902 Jakarta Kota-Bekasi 15:08 

905 Bekasi-Jakarta Kota 16:12 

906 Jakarta Kota-Bekasi 17:08 

909 Bekasi-Jakarta Kota 18:18 

910 Jakarta Kota-Bekasi 19:25 


SUMBER

Jumat, 25 Mei 2012

Jadi Imam Harus Siap!

Tadi siang, gue sholat jumat di SMAN 6 soalnya gue ikut pelatihan OSN tingkat provinsi tahap dua. Pas khutbah pertama, keadaan masih aman terkendali. Tapi, Pak Khotib yang gue gak tahu namanya khutbahnya cepet banget. Khutbah kedua juga demikian, ditutup dengan do'a yang lumayan panjang.


Apa yang terjadi pas sholat? Pak Khotib salah membaca ayat! Nih bukannya memojokkan beliau karena kesalahannya, apalagi mengganggap gue lebih jago daripada beliau. Di rakaat pertama, beliau membaca surat Al-Fatihah seperti biasa. Setelah itu, beliau membaca surat Asy-Syams. Di ayat keempat yang harusnya berbunyi "wallaili idzaa yaghsyaahaa", beliau membaca "wallaili idzaa yaghsyaa". Jelas ini salah besar. Tadinya, gue inisiatif buat benerin bacaannya biar gak makin salah. Karena bacaan beliau cepet banget, kecepatan gue bersuara pun kalah sama suara Pak Khotib. Akhirnya, Beliau membaca surat Al-Lail sampai habis.


Di rakaat kedua, beliau membaca surat Adh-Dhuha setelah Al-Fatihah. Gue pikir sih bisa lah, cuma sebelas ayat. Pas ayat kesembilan yang harusnya berbunyi "fa ammal yatiima falaa taqhar", beliau membaca "fa ammal yatiima falaa tanhar". Daripada mendengarkan hal-hal yang salah, gue langsung menyanggah bacaan beliau bersamaan dengan jamaah lain. Dan, beliau memperbaiki bacaannya sampai bacaannya selesai.


Dari kejadian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa gak mudah menjadi imam. Kalo imam melakukan kesalahan pas sholat, imam duluan yang kena dosanya dan kena malunya. Daripada kena dosa, mendingan dipersiapkan sebelum sholat mau baca apaan, bukan menghindari tugas sebagai imam. Jadi, kesalahan membaca bisa dihindari.


"Katakan yang benar walaupun itu pahit". - Rasullullah SAW

Selasa, 24 April 2012

Sekilas Bus Kota Jakarta


Berhubung tanggal 24 April adalah hari angkutan Jakarta, gue mau bahas tentang transportasi umum di Jakarta. Karena transportasi berbasis rel sering dibahas di sini, gue akan membahas tentang bus kota. Kali ini, gue akan membahas rute bus Mayasari Bakti P.02, R.507, dan PPD 45.

Dimulai dari P.02 rute Kampung Rambutan – Grogol PP. Awalnya, bus ini punya tiga rute, yaitu P.6 (Kampung Rambutan – Grogol), P.6A (Kampung Rambutan – Kalideres), dan P.6B (Kampung Rambutan – Muara Angke). Tapi, ketiga rute tersebut  terpaksa digusur keberadaannya oleh Trans-Jakarta koridor 9 (Pinang Ranti – Pluit) pada akhir tahun 2010. Beberapa bulan kemudian, muncullah rute ini sebagai pengganti rute yang dihapus oleh Dishub. Bus ini kelihatan ramenya menjelang malam. Kalo pagi, gue kurang tahu soalnya jarang memantau bus itu. Tak semua bus ini mengantar penumpangnya ke Kampung Rambutan, ada beberapa bus yang beroperasi hanya sampai UKI. Rute ini tak hanya ditangani oleh bus ini, ada AC.02 (Kampung Rambutan – Kalideres) yang tidak kena dampak busway koridor 9 secara langsung. Bus ini lebih rame daripada P.02 karena waktu tempuhnya lebih cepat dibandingkan bus tersebut.

Lanjut ke R.507 rute Pulogadung – Tanah Abang PP. Dari rutenya, bus ini banyak bersinggungan dengan jalur busway koridor 2 (Harmoni – Pulogadung PP). Di jam-jam sibuk, bus ini sering overload penumpang karena busnya jarang lewat. Gue juga pernah naik bus ini, dan hasilnya beragam. Pertama kali naik, gue berdiri di ujung pintu karena penumpangnya melebihi kapasitas walaupun gue pernah naik sampai Tugu Tani, tempat “Xenia maut” menabrak sembilan orang hingga tewas. Biasanya, bus ini sudah penuh dari Tanah Abang. Sepi-sepinya bus itu tetep berdiri. Di daerah Senen, banyak penumpang yang menunggu bus ini.

Yang terakhir, PPD 45 rute Cililitan – Blok M PP. Bus ini juga berdampingan dengan busway koridor 9 (Pinang Ranti – Pluit), tapi bus ini tidak terkena “gusuran” Dishub karena (mungkin) bus ini lewat Mampang yang tidak berdampingan dengan jalur busway. Bus ini menggunakan bus impor dari Jepang, tapi ada armadanya yang menggunakan bus seperti bus Mayasari Bakti/bus pariwisata. Warna busnya putih berstiker merah. Bus ini hampir setiap hari penuh penumpang karena melewati banyak perkantoran di daerah Pancoran.

Selamat hari angkutan nasional!

Senin, 16 April 2012

Menjelajah KRL Jalur Barat


Tadi pagi, gue nganterin nyokap ke kantor di daerah Bintaro. Gue berinisiatif pulang naik kereta karena melihat jalan tol arah UKI macet panjang. Sekalian menambah pengalaman naik KRL jalur barat.

Kali ini, gue naik KRL Commuter Line dari stasiun Jurang Mangu. Stasiunnya agak terpencil, yaitu ada di bawah jalan raya. Sama kayak stasiun Rawa Buntu. Stasiun ini menyediakan lapangan parkir agar penumpang menikmati tidak berkutat dengan macet di jalanan.



Pas beli karcis, terpampang pengumuman bahwa Commuter Line 07.41 dibatalkan. Karena gue bingung gangguan apa yang terjadi, gue bertanya-tanya sama petugas setempat. Ternyata, gue sama petugas itu sama. Sama-sama bingung apa penyebab gangguan KRL sampai perjalanannya batal. Belum terpecahkan apa gangguannya, gue cek di Twitter. Akhirnya rasa penasaran itu terpecahkan. Gangguan KRL disebabkan oleh .... AC! Masalah yang biasa diderita oleh armada KRL Jabotabek. Keadaan stasiun saat itu sangat penuh karena batalnya KRL tersebut. Di lintas Bogor, kalo KRL ada gangguan, pasti KRL di belakangnya akan menjadi 'korban'. Biasanya, 'korban' yang dimaksud adalah KRL Commuter Line karena KRL Ekonomi sudah tak layak pakai dan doyan mogok. Di lintas Serpong, 'korban' yang dimaksud adalah KRL Ekonomi. Ini sih hanya kebetulan aja karena jadwal setelah KRL Commuter Line yang batal adalah KRL Ekonomi, tapi unik karena jarang terjadi hal seperti ini. 


Beberapa saat kemudian, KRL Ekonomi yang sudah overload masuk stasiun Jurang Mangu. Walaupun kereta sudah penuh dan petugas sudah melarang berkali-kali, penumpang tetap memaksakan diri masuk ke dalam kereta. Uniknya, atap KRL Ekonomi bersih dari atapers satupun. Gak seperti KRL Ekonomi Bogor - Jakarta PP. Penuh sedikit, penumpang nekat naik ke atap kereta.



Setengah jam kemudian, KRL Commuter Line tujuan Tanah Abang yang ditunggu puluhan orang datang. Kondisi di dalam kereta gak jauh beda sama KRL Ekonomi tadi. Tetap penuh penumpang plus karung berisi puluhan sapu ijuk. Pegangan yang tersedia di dalam kereta sudah tak diperlukan lagi karena gue sudah terjepit penumpang lain. Parahnya lagi, AC di dalam kereta mati tanpa alasan jelas. Perkiraan gue, KRL yang gue naiki adalah KRL yang dibatalkan karena AC-nya gak berfungsi. Untung saja, AC menyala ketika KRL sampai di stasiun Kebayoran. 

Sampai di stasiun Tanah Abang, tersedia KRL Commuter Line tujuan Depok. Tetapi, KRL itu langsung berangkat menuju Depok. Hal ini sangat disayangkan oleh banyak penumpang karena mereka harus menunggu KRL berikutnya menuju stasiun Sudirman. KRL Feeder pun gak ada yang lewat. Mau gak mau, mereka menunggu lebih lama di peron jalur 3 stasiun Tanah Abang. 20 menit kemudian, KRL Commuter Line tujuan Depok berikutnya masuk jalur 3. Ratusan orang langsung masuk ke dalam rangkaian kereta.

Dari perjalanan di atas, PT. KCJ selaku operator KRL Jabotabek harus memerhatikan hal-hal sepele seperti AC yang mati. Selain itu, perlunya KRL cadangan di stasiun Serpong/Parung Panjang agar tak terjadi pembatalan perjalanan KRL. Hal itu juga membuat penghasilan dari penjualan karcis merosot karena banyak penumpang menukarkan tiket Commuter Line dengan KRL Ekonomi.

Jual jamu sampai Meruya ...
Sampai bertemu di post berikutnya ...